Lumbung Yang Gamang | Puisi Food Estate


Di tanah agraris yang berkalang cemas,

Jutaan petani menatap langit yang kian panas.

Penduduk bertambah, rantai pasok terputus,

Ketahanan pangan dicari dalam langkah yang tergesa dan tulus.

Food Estate datang membawa janji lama,

Sebuah mega-proyek dengan narasi yang sama.

Namun sejarah mencatat jejak yang berdebu,

Dari gambut Kalimantan hingga Papua yang kian sendu.

Sejuta hektar di era lalu runtuh jadi abu,

Tanah yang asam menolak padi yang dipandu.

MIFEE di Merauke menyisakan luka dan sengketa,

Tanah ulayat terampas atas nama kedaulatan semata.

Kini spanduk baru kembali berkibar,

Di tengah krisis global yang kian menjalar.

Namun perencanaan masih pincang di atas kertas,

Mengabaikan iklim dan teknologi yang tak selaras.

Masalahnya bukan hanya tentang ketersediaan,

Tapi tentang distribusi dan keadilan yang ditiadakan.

Pangan lokal tergerus arus "Industri",

Membuat perut-perut di pelosok kian meringis.

Jangan lagi bangun lumbung di atas konflik,

Jangan lagi buang anggaran dalam siasat politik.

Hentikan deforestasi yang mengundang bencana,

Sebab bumi punya cara membalas yang paling fana.

Kembalikan kedaulatan pada tangan petani,

Bukan pada korporasi yang sibuk menghitung rugi.

Biarkan lumbung pangan tumbuh dari akar partisipasi,

Agar ketahanan bukan sekadar mimpi yang mati berkali-kali.

Komentar